Packing pada malam itu juga, aku masukkan barang-barang yang bisa dibawa kesana dalam tas backpack andalanku, lebih banyak barang yang nantinya akan ditinggal daripada barangku sendiri yang akan dibawa pulang lagi. Kaos panjang, celana cargo atau bahan, botol air minum, dan sepatu sandal. Dimulailah perjalanan sepanjang malam, gelap dan jalanan yang tidak bagus dan rata. Biasanya aku selalu memilih kursi paling depan di dekat supir, merasa lebih aman dan nyaman, bisa berbincang juga dengan si bapak supir. Mereka pun biasanya semangat ngajak ngobrol, karena seringkali aku satu-satunya penumpang yang bukan berasal dari daerah ini, kebanyakan mereka sudah saling kenal dan hendak pulang ke rumahnya. Biasanya angkutan ini akan berhenti di tengah malam untuk istirahat, makan, atau sholat, atau jika kurang beruntung, karena mogok.

Begitu subuh tiba, sampailah aku di tempat yang jauh dari perkotaan ini. Tidak ada lampu jalanan di kala malam, nama jalan atau nomer rumah pun tidak ada, tapi aku tahu dimana harus berhenti. Terkadang bapak supir pun langsung bertanya, kemana tujuanku, tinggal menyebut nama, biasanya mereka sudah tahu dimana rumahnya. Belum juga aku turun dari kendaraan itu, sudah ada yang menyambut dengan wajah yang sumringah, berjalan sedikit berlari menghampiriku dan memeluk erat, terkadang sambil berteriak, membangunkan tetangga sebelah. Menyampaikan rasa rindu dan bahagia.

Malam ini sebuah pesan dari salah seorang di antah berantah itu menyapaku, menyampaikan kerinduan mereka dan seperti biasa menanyakan, kapan aku kesana lagi. Pesan ini membuatku rindu melakukan perjalanan-perjalanan yang sering aku lakukan ini semenjak 8 tahun yang lalu. Ke antah berantah yang telah menjadi rumah-rumah yang lain untukku, menemui orang-orang yang telah memiliki tempat di hatiku, yang mengajarkan akan ketulusan dan kesederhanaan hidup. Bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dicari kemana-mana, dia ada dalam diri kita, di sekitar kita, sangat dekat dan sederhana. Mereka yang tidak pernah lelah menyapaku, pengingat terbaik yang menjadi salah satu alasan untuk pulang.

Satu hal yang ingin aku lakukan ketika suatu saat aku pulang nanti, mengunjungi mereka-mereka satu per satu dan melakukan perjalanan-perjalanan serupa ke antah berantah yang lain, mencari dan menemukan bentuk-bentuk kebahagiaan dan kesederhaan yang lain.

 

dscf7163
Photo by: Didi Guci. Location: Pos Plawangan, Taman Nasional Gunung Rinjani

 

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Antah Berantah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s