The way back home (Eps. 1: Roadtrip to The North)

The way back home: Bukittinggi – Barus – Blang Pidie – Banda Aceh – Sabang – Takengon & Bener Meriah – Medan – Duri – Jambi – Palembang – Lampung – Jakarta – Bandung (28 Februari – 16 Maret 2021 / 17 Hari)

Eps.1 Roadtrip To The North

Semenjak awal kedatangan kami di Bukittinggi, kami Sudah merencanakan akan melakukan roadtrip ke Aceh. Aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Aceh jadi penasaran ingin kesana. Ada beberapa teman baik kami juga disana jadi sekalian ingin bersilaturrahmi. Hingga sekitar 2 bulan di kampung di Bukittinggi, belum jadi juga kami ke Aceh karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan dulu. Disaat kita sudah akan berangkat, eh kami malah tidak enak badan karena sehari sebelumnya kecapekan ulah siang-siang bolong mencangkul di halaman 😀 Jadilah kami putuskan untuk menunda perjalanan ke Aceh. Kami juga sempat maju mundur ingin berangkat karena covid-19 yang pastinya akan lebih menantang di perjalanan. 

Ohya ini beberapa dokumentasi ketika kami jalan-jalan di sekitar Bukittinggi & Sumatra Barat 🙂

Namun alhamdulillah akhirnya kami diberi kesempatan untuk bisa ke Aceh dengan rute sekalian pulang ke Bandung! Hah gimana? Jadi muter keatas dulu lalu turun lagi ke bawah? IYA! Hehehe mungkin terdengar aneh bagi banyak orang, apalagi yang di kampung ketika kami berpamitan pulang dan bercerita akan ke Aceh dulu. Pertimbangan kami adalah supaya tidak perlu packing-unpacking lagi dan kami tidak punya banyak waktu lagi juga sebelum pulang ke Bandung. Jadi kami pikir itu adalah solusi yang paling enak. Ditambah Nenek-nya Kal ingin ikut juga ke Aceh tadinya dan juga ingin ikut mengantar pulang ke Bandung. Jadi sekalian saja kami ajak Nenek Kal yang belum pernah ke Aceh juga di usianya yang menginjak 67 tahun ini. 

Didi yang menentukan rute awal perjalanannya dan aku bertugas untuk menarikan penginapan di setiap malam-nya. Aku juga di depan sebagai asisten driver hehe bantu untuk cek google map, memastikan asupan cemilan & minuman driver aman, ikut memantau perjalanan, dll. Beberapa kali aku tawarkan juga untuk bergantian menyetir namun Didi tentunya belum berani memberkan setir kepadaku di jalur Sumatra ini hehe katanya, “Nanti aja kalau roadtrip ke Flores”, Bhaiiiqqq! 😀

Sementara Kal di belakang duduk di car seat-nya seperti biasa. Yang berbeda, kali ini ada Nenek-nya di sebelahnya. Terkadang jika dia di belakang sudah sangat cranky dan ga tahan berjam-jam duduk, dia akan minta ke depan, minta nenen, minta main sama aku di depan. Biasanya ketika memang sudah tidak kondusif lagi suasana di belakang, aku akan angkat dia ke depan untuk nenenin Kal dilanjut baca buku atau main-main sebentar lalu dia kembali lagi ke car seat-nya. Ada satu dua kali dia tertidur ketika nenen sehingga terpaksa aku pangku sampai dia terbangun lagi dan kembali lagi ke car seat-nya. Satu hal yang membedakan dengan keberangkatan kita di bulan Desember lalu, di usia Kal yang bulan Maret lalu menginjak 16 bulan, dia sudah bisa menikmati baca buku dan banyak mengucapkan kosa kata dengan menunjuk gambar yang dia tahu di buku. Sehingga di perjalanan roadtrip pulang ini, kami taruh di sebelah dia semua buku yang kami bawa dan seharian perjalanan dia bisa berulang kali membaca buku-bukunya. Ini cukup. membantu banget untuk bisa membuat dia nyaman di perjalanan. Selain buku, dia juga suka banget bernyanyi dan bermain sama animal figurine dan bonekanya. Jadilah terkadang kami bernyanyi2, atau sering kali aku mengarang banyaaaak cerita tentang animal2 figurine dan bonekanya hehe.. ya, dia suka sekali didongengin. 

Salah satu contoh ketika dia sedano asik ngemil dan main namun ngantuk, maka jadilah snack di tangan kanan, “Utan kecil”-nya di tangan kiri 😀

Beberapa kali dia bisa tertidur tanpa nenen di mobil dengan cara didongengin. Syaratnya, harus dengan gerakan2 tangan, memakai animal2 figurine atau bonekanya, jadi ada visual-nya. Kami juga mengamati Kal jauuuuh lebih bisa tenang dan handle himself very well di perjalanan roadtrip pulang ke Bandung ini dibanding ketika berangkat bulan Desember lalu. Banyak hal yang mempengaruhi ini: usianya sudah beda 2 bulan, sekarang dia jauh lebih bisa berinteraksi dua arah dengan kami, memahami instruksi, memahami penjelasan kami, bisa diajak bernegosiasi, bisa melihat ke jalanan dan mengamati jalanan (dia sangat tertarik dan sering membunyikan kata, “Awan!”, “Mamak!” (his word for Motorbike entah darimana ini inspirasinya :D), “Ngeng ngeeng!” (mobil/motor), “Kakak!” (kalau ada anak kecil lebih besar dari dia), “Bapak” (kalau ada bapak-bapak), “Mamam” kalau lihat orang makan / warung hehe definitely this is his favorite dan lain sebagainya. Ini membuat tugas kami untuk menenangkan dia juga jadi lebih mudah, tidak sesering dulu ketika berangkat. 

Day 1: Bukittinggi – Padang Sidempuan – Sibolga – Barus (443 km / +- 11 jam)

Inilah rute hari pertama perjalanan kami. Tadinya kami berencana akan menginap di Sibolga. Namun ternyata kami sampai di Sibolga masih sekitar jam 5 sore. Untuk mengefisienkan perjalanan kami ke depannya, lalu kami memutuskan untuk melanjutkan menginap di kota berikutnya. Keputusan menginap akhirnya ditetapkan di Barus, sebuah kecamatan di Kabupaten tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dengan pertimbangan kami sampai disana belum terlalu malam sekitar jam 7. Sibolga – Barus sekitar 2 jam perjalanan. Barus memiliki beberapa penginapan yang cukup oke dan ternyata Barus banyak menyimpan cerita sejarah sebagai titik 0 peradaban Islam di Indonesia! Kota ini memiliki nama lain Fansur (nama tengah sahabat Kal nih yang tadinya pengen kami samperin di Aceh tapi sudah keburu pulang ke Bandung duluan) dan pernah menjadi pusat perdagangan dan peradaban pada abad 1-17 Masehi dengan komoditas kapus barusnya. 

Kami booking melalui telefon penginapan malam itu di Metro Hotel dan malamnya, kami memesan makanan dari kafe di hotel tersebut untuk dimakan di kamar kami. Ohya, siangnya, kami masih bisa memakan bekal kami dari kampung dan berhenti di salah satu Masjid di Kota Nopan untuk istirahat disitu. 

Paginya, sebelum melanjutkan perjalanan dan sesudah memakan sarapan dan minum kopi di kafe hotel yang sepi pagi itu, kami menyempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Barus,

Banyak sekali makam para ulama yang membawa agama Islam masuk ke Indonesia di Barus yang menarik untuk dikunjungi namun karena kami tidak punya banyak waktu, kami memutuskan untuk ke 1 lokasi: Makam Papan Tinggi. Selain ke tempat itu, kami juga menyempatkan untuk melihat Monumen Titik 0 KM Peradaban Islam Nusantara yang berada di pinggir pantai. 

Kebetulan pagi itu aku ada meeting jam 10, sehingga aku harus menunggu di warung di bawah Makam Papan Tinggi sementara Didi, Kal, dan Nenek Kal naik keatas. Setelah satu jam mereka sampai dibawah lagi dan aku selesai meeting (untung sinyalnya bagus banget disini, kapan lagi bisa “Work from Makam” :D. Rupanya tangga naik keatas sangat menantang dan Nenek hanya bisa sampai setengah lalu kembali turun. Sementara Kal dan Ayahnya yang gendong dia sepanjang perjalanan pakai Zakkel Baby Carrier, meski ngos-ngosan sampai juga keatas! Namun kata Didi, sepertinya kalau cuma punya waktu singkat, lebih baik ke Makam Mahligai atau Makam lainnya yang naiknya ga semenantang ini. Apalagi kami masih harus melanjutkan perjalanan panjang hari itu ke Blang Pidie. Kaki Didi sudah pegel duluan paginya karena harus naik turun 1000 tangga 😦

Monument titik 0 Peradaban Islam di Barus

Day 2: Barus – Blang Pidie (357 km / +- 8 jam)

Perjalanan hari kedua sebetulnya tidak sepanjang hari pertama karena berjarak sekitar 357km dan 8 jam. Kondisi jalanan pun bagus bahkan ketika kami memasuki Aceh, kami takjub dengan betapa mulusnya jalur di sepanjang lintas Aceh. Didi sampai bilang setelah mengelilingi hampir seluruh bagian Aceh, “Aku cukup berani bertaruh kayanya jalur sepanjang Provinsi Aceh ini salah satu jalan paling bagus di Indonesia” 

Di hari kedua ini setelah ada drama di pagi hari ngos-ngosan nanjak ke Makam Papan Tinggi (the view is worth it though kata Didi!), kami jalan juga menuju tujuan malam itu di Blang Pidie. Aku excited sekali akan memasuki Aceh, apalagi ketika tahu Imam, sahabat Didi satu sekolah S2 di ITB yang juga sempat tinggal bersama kami selama beberapa bulan di Bandung, berujar melalui WhatsApp ke Didi: “Wajib cobain Bebek Bireun Pak Maun di dekat hotel kalian. Ada juga yang selain bebek di sebelahnya.” Waah, kalau sudah berbau kuliner-kuliner gini, aku dan Kal yang paling semangat! 🙂 Karena Didi dan Ibu tidak makan daging2an, ayam, bebek, telur (khusus Ibu), maka pilihan Bebek malam itu jelas untuk aku dan Kal. Didi dan Ibu memilih makan udang dan kerang di kedai yang dibilang Imam tadi di sebelah tempat Bebek Bireun. 

Ohya, rute hari itu kami melewati Aceh Barat tentunya setelah meninggalkan Sumatra Utara. Blang Pidie sendiri masuk daerah ABDYA (Aceh Barat Daya). Kami sempat mampir ke Tapak Tuan, sebuah kota kecil yang menarik karena ada cerita tapak kaki besar yang membekas di batu besar di pinggir pantai Tapak Tuan. Kami pun menyempatkan untuk singgah sebentar ketika kami tiba sekitar jam 5 sore di Tapak Tuan. Masih ada 1,5jam lagi menuju Blang Pidie, sekalian kami selonjorkan kaki, berjalan di trek pinggir pantai, naik menuju ke tempat batu besar yang selalu dihempas ombak-ombak besar perairan samudra. Its quite challenging but we did it! 

Kami menginap di Hotel Grand Leuser malam itu di Blang Pidie setelah membungkus bebek, kerang, dan udang yang dibilang Imam tadi. Hotel ini bisa dibilang termasuk hotel yang bagus (mungkin salah satu yang terbaik di Blang Pidie) dengan bangunan yang sudah agak lama. Jadi gayanya seperti bangunan klasik tua yang masih terawat dengan apik. Tentunya Imam yang merekomendasikan untuk menginap disini karena kami tentunya tidak banyak tahu tentang Blang Pidie 😀 Kami merasa selama perjalanan kami ini (dan di perjalanan-perjalanan kami sebelumnya), bertanya rekomendasi ke teman lokal dari daerah tersebut sepertinya lebih menjanjikan dan jadi solusi yang cepat dibanding scrolling google, Traveloka, OYO, booking.com, dll yang harus ngeliatin satu-satu review orang, cek harganya, kamarnya, dll. Apalagi di masa covid-19 seperti ini yang tentunya orang akan lebih mencari tempat yang nyaman, bersih, dan sudah mematuhi protokol kesehatan. Asking the local’s recommendation is the best way to travel as always! 

Day 3: Blang Pidie – Banda Aceh (358km / +- 6 jam)

Usai menghabiskan kopi dan sarapan dari hotel pagi itu, kami berangkat jauh lebih pagi dari 2 hari kemarin; pukul 8 pagi. Ini karena kami ingin sampai di Banda Aceh sebelum gelap sehingga bisa keliling sebentar dulu sebelum ke tempat Imam dimana kami akan menginap selama di Banda. Ohya, sepanjang perjalanan, rata-rata kami berhenti untuk istirahat, selonjoran, makan, dan waktu untuk Kal jalan kaki dan lari-lari sepuasnya supaya ga cranky kelamaan duduk. Itu sekitar 2 jam in total dalam 1 hari. Jadi semisal perkiraan jarak hari ini 6 jam, maka kami tambah 2 jam untuk istirahatnya. 

Kami berhenti di Meulaboh sekitar pukul 11 siang untuk mencoba “Kopi Khop Meulaboh” khas Meulaboh alias kopi yang cara meminumnya dengan dibalik gelasnya dan diseruput dari bawah. Atas rekomendasi Imam kami ke tempat ini dan tempatnya enak karena di alam terbuka. Ngopi-nya di saung-saung kecil yang terbuka. 

Sebelum memasuki Banda Aceh, lagi-lagi kami dapat rekomendasi kuliner dari Imam untuk ke “Mi Kepiting Lamno” namun sepertinya belum rejeki kami karena ketika kesana tempatnya tutup. Lalu kami ke rekomendasi satunya di “Mi Aceh Leupung” yang lokasinya di pinggir jalan raya besar. Hari hujan ketika kami sampai dan hanya ada kami disitu. Suasananya syahdu sekali makan mi kepiting di tengah hujan deras 😀 Boleh diakui, ini salah satu Mi Aceh terenak yang aku makan sepanjang di Aceh! Masih terbayang hingga sekarang sensasi panas, gurih, sedikit pedas dari kuahnya lalu kepitingnya yang aduhai (namun kurang besar kalau menurut Didi si pecinta Kepiting) dan diadu dengan mi-nya yang pas tekstur dan rasanya. Sungguh pembuka yang manis sebelum kami memasuki Banda Aceh. 

Sebelum menuju rumah Imam, kami menyempatkan keliling seputar Banda Aceh begitu memasuki kota. Didi yang sudah pernah kesini sebelumnya seolah napak tilas sambil menjadi guide untuk kami. Kami melewati Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh, dan berhenti untuk ziarah di Makam Syech Abdurrauf bin Ali Alfansuri / Syiah Kuala. Bapak (Mbah Kakung-nya Kal di Kudus) yang punya kesukaan ziarah pasti senang sekali kalau diajak kesini. Lokasinya tepat di pinggir pantai terjadinya Tsunami Aceh 2004. Makam ini mendapat banyak sorotan publik ketika diketahui tidak merusak / menghanyutkan pusara Syeikh Abdul Rauf, padahal jaraknya hanya 1km dari bibir pantai. Si Kal menemukan kambing di depan area makam dan jadilah dia kejar-kejar untuk dikasih makan 😀

Alhamdulillah, sampai juga kami di rumah Imam, Maya, Khaira & Haura (dua putri mereka). Senang rasanya bisa melepas sejenak hari-hari panjang di perjalanan dan bertemu sahabat lama. Sebuah hal yang kami sangat syukuri bisa diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa sampai kesini dengan selamat, aman, dan nyaman. 

Apa saja rencana kami di Banda Aceh? Berapa lama kami menetap disini sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang? Tunggu cerita lanjutannya di episode perjalanan roadtrip ini berikutnya ya, hehe.. Semoga ada yang bisa diambil manfaat baiknya dari cerita ini ya! 

Bandung, 2 April 2021

Missing Aceh a lot.. the food, the people, and everything in between!

Roadtrip Pulang Kampung Bandung-Bukittinggi di tengah Pandemi Bersama Kal 13 Bulan

Halo teman-teman blog-ku!

Sudah lama juga tidak menulis lagi di blog ini. Terakhir tulisanku sebelum ini adalah tentang Kal yang berusia 6 bulan. 3 hari lagi Kal sudah beranjak 14 bulan, I know, time flies when you have a baby, right! Salah satu keinginan yang ingin kuwujudkan di tahun 2021 ini adalah lebih sering mengasah kemampuan menulisku disini, terutama berbagi tentang petualangan bersama Kal yang makin seru saja setiap harinya dan mungkin sedikit pemikiranku. Semoga bisa ya meluangkan lebih sering waktu untuk menulis disini dibanding lihat-lihat instagram hehe..

Nah di tulisan pertama 2021 ini aku ingin berbagi tentang pengalaman roadtrip pulang kampuang ke Bukittinggi. Kami memutuskan untuk pulang ke kampung Didi semenjak tahun lalu karena sudah lama tidak pulang kampung dan nenek Kal belum pernah bertemu dengan Kal semenjak Kal lahir.

Namun karena pandemi, rencana ini terpaksa harus diundur terus. Tadinya kami ragu akan pulang dengan mobil atau pesawat. Banyak pertimbangan yang kami perhitungkan mulai dari risiko terpapar virus COVID-19, kenyamanan di perjalanan (terutama untuk Kal), rute di perjalanan, biaya, dsb hingga akhirnya kami memutuskan untuk menyetir dengan mobil sendiri dari Bandung (tepatnya Didi yang menyetir sendiri karena aku belum berani menyetir lintas Sumatera, semoga next time bisa jadi driver cadangannya ya! :p).

Setelah melakukan riset baca-baca blog, nonton youtube, dan bertanya ke orang2, kami memutuskan untuk mengambil rute lintas timur yakni dari Bandung – Jakarta – Cilegon – Lampung – Palembang – Jambi – Sawahlunto – Bukittinggi. Kami mulai perjalanan tanggal 20 Desember lalu bermalam di Jakarta karena ada urusan yang diselesaikan dulu di Jakarta lalu mulai perjalanan dari Jakarta di pagi tanggal 22 Desember. Itinerary singkatnya seperti ini:

22 Desember : Jakarta – Lampung – Palembang (stay at Beston Hotel Palembang)
23 Desember : Palembang – Jambi (stay at Odua Weston Hotel Jambi)
24 Desember : Jambi – Muaro Bungo – Dhamasraya – Sawahlunto (stay at Inna Ombilin Hotel)
25 Desember : Sawahlunto – Bukittinggi (hanya sekitar 2 jam, paginya kami sempatkan jalan-jalan di kota kecil nan indah Sawahlunto)

Kurang lebih seperti ini kalau di google maps:

Lumayan panjang bukan? Hehe apalagi untuk pemula roadtrip-er lintas Jawa-Sumatra seperti kami, rute ini salah satu achievement kami roadtrip terpanjang yang kami lakukan bersama. Apalagi semenjak pandemi Maret 2020, kami hampir tidak pernah keluar kota apalagi roadtrip! Paling kalau jalan nyari tempat alam yang sepi di sekitar Bandung. Kami pun bangga dan terharu bisa membawa Kal melakukan perjalanan ini di usianya yang baru 13 bulan. Dia sangat kooperatif selama di jalan tidak merepotkan dan bisa ikut menikmati perjalanan bersama kami.

Untuk teman-teman yang ingin melakukan perjalanan darat dengan bayi / toddler, beberapa tips yang mungkin bisa kami bagikan dari pengalaman dengan Kal:

  1. Ceritakan / sounding sejak jauh-jauh hari bahwa kita akan melakukan perjalanan ini, berapa lama perjalanannya, apa ekspektasi yang akan terjadi di jalan, dll. Sekitar 1 bulan sebelum perjalanan kami terus menceritakan Kal kalau dia akan bertemu neneknya di Bukittinggi, neneknya juga sering menelfon lewat video call WA supaya Kal tidak kaget ketika bertemu pertama kali dengan neneknya.
  2. Latihan untuk duduk di car-seat selama 3 bulan untuk Kal kami lakukan dengan berkeliling di mobil saja selama di Bandung. Awalnya Kal tentunya nangis dan memberontak ingin keluar dari car-seat nya hehe namun dengan terus konsisten mendisiplinkan dia dan memberitahu bahwa tempat dia duduk ketika di mobil itu ya di car-seat bukan di pangkuan kita. Lama-lama dia mulai mengerti dan nyaman bahkan sering ketiduran di car-seat kalau kita bawa keliling naik mobil.
  3. Selama latihan itu, coba pelajari trik apa yang bisa bekerja dengan baik untuk menenangkan ketika anak mulai menangis atau ingin keluar dari car-seat. Kalau untuk Kal, dia biasanya bisa tenang kembali dengan beberapa hal seperti: cemilan (Kal termasuk hobil nyemil kalau di mobil hehe), buku, didongengin, mainan yang dia bisa betah mainkan sambil duduk (kami bawa boneka dia, animal figurine, mobil-mobilan, dan yang bukan ‘mainan’ tapi menyenangkan buat Kal seperti topi (ya, dia suka sekali mainan topi!), masker bersih (ini entah kenapa dia sangat tertarik dengan masker mungkin karena melihat kita sering pakai masker hehe), buka tutup botol, dll.
  4. Pasang musik lullaby / yang biasanya bisa bekerja untuk buat anak tenang dan bisa tidur ketika sudah mengantuk, jadi anak bisa lebih gampang tidur di car-seat ketika sudah mengantuk.
  5. Pakaikan baju yang nyaman, biasanya kalau di tempat yang agak panas kami pakaikan kaos santai saja yang longgar begitu juga celananya yang longgar. Jika tempatnya dingin, kami pakaikan kaos panjang yang agak hangat. Kami juga pasang tirai dari selimut tipis di jendela sebelah Kal jadi kalau panas dan silau bisa ditutup jendela Kal.
  6. Jadwal kita mengikuti mood anak hehe jadi kadang kita memang punya rencana tapi anak yang menentukan kapan kita akan berhenti, kapan jalan lagi, dll. Harus fleksibel dan santai memang melakukan perjalanan dengan anak, tidak bisa diburu-buru. Itulah kenapa kami bermalam sampai 3x sementara kalau melihat beberapa blog orang lain, kebanyakan bisa melakukan perjalanan yang sama hanya dengan bermalam 1-2x. Kami ingin menikmati perjalanan dan tidak melakukan perjalanan di malam hari. Sehingga setiap pagi, kami selalu fresh kembali dan hilang capek-nya dari perjalanan sebelumnya. Harapannya, Kal juga bisa merasakan hal yang sama. Oiya, kami berhenti di jalan biasanya untuk makan (kami bawa tempat untuk takeaway lalu kami makan di mobil atau cari tempat yang sepi), ke toilet jika urgent sekali, mengganti popok Kal, melepaskan sejenak kelelahan Kal duduk terus dengan membiarkan dia jalan, atau sholat.
  7. Bawa segala alat perang perlengkapan anak tapi usahakan tetap travel light. Jadi, kami hanya membawa yang essential yang harus ada buat Kal misalnya makanan kesukaan, mainan dan buku kesukaan, kursi makan foldable yang biasa dipakai makan sehari-hari (merk-nya Pliko, kami suka banget karena bisa dilipat, praktis dibawa kemana-mana, dan mudah dibersihkan), alat makan, dll. Semua kami pack di belakang dengan kontainer jadi lebih bisa packed. Untuk baju-baju kami juga hanya 1 koper, sisanya alat untuk piiknik outdoor (hammock, picnic tarp, dll), galon, perbekalan kopi dan teh produk kami @barokahcoffeeshelter untuk oleh-oleh.
  8. Jika semua trik sudah tidak bekerja dan Kal masih menangis, senjata paling ampuh biasanya adalah “nenen” kalau untuk Kal :p Jadi biasanya, aku akan membawa dia ke depan untuk nenen sebentar lalu dikembalikan lagi ke car-seat nya supaya dia faham, hanya boleh keluar car-seat kalau untuk nenen. Namun, beberapa kali kejadian dia tertidur ketika nenen sehingga mau nggak mau dia akan tidur di pangkuanku dalam beberapa saat (biasanya paling lama 1.5 jam).

Beberapa tips melakukan road-trip jarak jauh selama pandemi (khususnya lintas Jawa-Sumatra):

  1. Mobil harus dicek dan service besar sebelum melakukan perjalanan. Pastikan juga perlengkapan di mobil untuk perbaikan kecil ketika ada apa-apa di jalan lengkap.
  2. Makanan dan minuman harus selalu tersedia di mobil, yang praktis untuk bisa dimakan di mobil, supaya kita ga perlu berhenti untuk sering-sering beli makanan (karena masa pandemi ini, kami memang menghindari dine-in).
  3. Sediakan multivitamin selama di perjalanan sehingga badan tidak drop selama di jalan.
  4. Selalu pastikan bensin penuh dan dimana ada pom bensin sebisa mungkin diisi jangan sampai tunggu akan habis baru mencari pom bensin. Pengalaman kami kemarin, di beberapa lokasi tidak banyak pom bensin sehingga kadang meski di google maps / waze bilang ada pom bensin, bisa jadi stok bensinnya sering habis / antreannya panjang sekali.
  5. Penyebrangan Pelabuhan Merak Cilegon – Pelabuhan Bakauheni Lampung sekarang harus melakukan booking online terlebih dahulu melalui website Ferizy dan tunjukkan bukti tiket-nya kepada petugas ketika mobil masuk ke kapal.
  6. Pastikan semua akomodasi jika akan menginap sudah di booking online sehingga tidak perlu mencari-cari lagi ketika akan bermalam.
  7. Bawa sendiri alat makan, alat ibadah, alat mandi supaya lebih aman.
  8. Stok masker, hand sanitizer, disinfektan selama di perjalanan yang banyak dan cukup untuk selama perjalanan sehingga tidak perlu susah beli lagi selama di perjalanan. Sering-sering cuci tangan dengan sabun juga sebisa mungkin.
  9. Hindari keramaian dan tempat umum sebisa mungkin. Kami jarang berhenti di rest area karena akan bertemu banyak orang. Kami justru mencari tempat yang agak sepi di jalan yang kami bisa meminggirkan mobil sebentar sembari istirahat.
  10. Begitu sampai di tujuan, lakukan tes swab / rapid antigen terlebih dahulu sebelum kontak dengan keluarga yang akan ditemui sehingga lebih aman ketika kita tahu bahwa kita tidak terpapar COVID-19 selama di perjalanan.

Itu beberapa pengalaman kami selama roadtrip kemarin yang bisa aku share disini. Kalau ada pertanyaan, silakan bisa ditanyakan yah.. semoga bisa cukup membantu jika ada teman-teman yang ingin melakukan roadtrip di masa pandemi ini untuk urusan yang penting. Kami rencananya akan remote work dulu dari Bukittinggi belum tahu hingga kapan, apalagi melihat kasus di Jawa sedang tinggi-tingginya. Ternyata kami juga sangat menikmati tinggal di kampung dibanding di kota, memang tinggal dan bisa berkarya di desa adalah impian kami nantinya jadi ini bisa untuk latihan sedikit lah ya hehe (tolong bantu aminkan ya! :)).

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan di masa pandemi ini dan masih menjaga kewarasan mental, kecukupan rezeki, serta kebahagiaan ya teman-teman! InsyaAllah kita semua bisa diberi kekuatan untuk melewati pandemi ini, Amin!

Bukittinggi / Sabtu 16 Januari 2021 / 10.12 PM

6 Months with my Wanderkid

Its been very challenging to find time to write again in this blog. I really want to find that spark again to be able to write and read more like before, so I start it again. Since 2 weeks ago, I also start journaling on my book, handwritten. Hopefully I can beat Netflix, Instagram and prioritize time to read book and write more. Here we go!

So yeah, I finally deliver my baby boy 6 days after I wrote my last post before this. We name him “Khalid Aldrich Battuta”. We have been calling him CIKAL since he was inside my womb, me and my husband found it over our bedtime conversation. Thus, we would like to keep calling him with that nickname or shortened by KAL. So we look for name that has Kal in it and we got KALDI / KHALEED / KHALID which means eternal and also inspired by Khalid Bin Walid, one of Muslim leader and a close friend of Nabi Muhammad SAW who famous with his brave to stand and fight for the right thing. We also admire the spirit of Ibn Battuta, A muslim scholar that has been discovering the world, one of the great traveler in that era.. Thats why we agree to put Battuta as his last name so that he can have the spirit of discovering the world like Ibn Battuta 🙂

IMG_20200415_142303

Kal and his dad. We did a bit of tea walking in Ciwidey, Bandung – drove our car in one of a spontaneous morning 🙂

 

The middle name is quite hard to decide, haha! I try to google and read any kind to search inspiration. I somehow would like to give a bit of classic Indonesian/Java name in the middle so I search for name like Aksara, Kelana, Sandyakala, Sembagi, Anantala, Sembrani, Kalandra ….. But then I also kind of want to put a bit out of Indonesia word in it so that he has option in the future if he would like to be called with any names haha I dont even know if he ever think to do that. So I also think of names like Aldrich, Aidan, Kenzo, Kenzie, …. Then we I give my list to my husband, he said he like Aldrich which means a wise & thoughtful leader. I even share my options to ky close friend and family and they also like Aldrich. OK, Aldrich it is. We confirm his full name in his 7 days old haha it takes time really to pick the name for your kid BUT its so much fun in the process of researching it, I love it!

What is funny is that we still calling him CIKAL and not KHALID (or Aldrich or Battuta) haha. People always ask where cikal comes from? Haha. But we always said to people to call him Kal to make it easy but my close friends call him Cikal 🙂 It will make Cikal nickname become special because only his parent, his closest aunty, uncle, friends will call him that.

IMG_20200616_124919

Kal play at his play area, most of his toy and shelves are DIY by me and my husband haha, we started to love doing DIY Montessori inspired toys

 

Can you believe he is six months and almost 7 months in 19 June? Oh my god, time really flies when you have a baby. Feel like yesterday I deliver him in a small clinic run by an experienced midwive in Kudus, my hometown that now become his hometown too 🙂 I still remember exactly the situation, what clothes me and my husband wore, and his first rockstar crying that morning at 05.06 AM. It was a very smooth delivery and I have to thank bidankita.com as my main resources to learn about pregnancy and delivering baby that mean to be natural and we as a woman gifted with this amazing human body to be able to deliver baby. I will share my pregnancy until delivering baby journey later in different post (hopefully I got chance ti write it! Its a very amazing journey for me that I never experience before AND I really feel like I reborn again like a superhero in the movie after I succesfully take Cikal out of my womb, haha. But seriously, I enjoy the process, nothing like feeling pain constraction, no screaming, no hitting/biting my husband haha, I even smile when he almost out from my womb.

And look at now, he is already eating, crawling all over the corner, singing his own melody, laughing ‘cekakak cekikik’, but what is stay the same is his wanting for breastfeed, his soft skin, his curly lip (haha this is so unique), his right feet that always go up to my stomach/breast everytime he breastfeeding, his crying, and his attachment to me 🙂 I am now believe that some of our character / typical is already in our soul even before we born. Your kid can have your character / your husband’s / even your parent or grand grand parents. There is indeed a research about it and maybe we need another post on that hehe.

IMG_20200615_114606

I was gardening and he crawl from his play area inside into this!!! 😁

 

I am so proud of him and I have been telling phim that so many times every time he do something good I say it in detail his progress such as, “Oh, you are now able to crawl and move from your play area to our office! ” Or “Oh you are able to grab your own food in the plate with your finger” , “Hey look at you, take your book from your bookshelves and look like you read it aloud”. I try so hard not to say ” good job! Great job!” And any kind of it as what I learn in Montessori way of parenting is that you dont praise your kid that way so that he will not grow searching for that praise as their motivation to do something BUT an encouragement by saying his making a great progress / work is what Montessori recommend. Ahh so so so many new things to learn when you become a mom and everyday is always new learning. And I love the way Dr. Maria Montessori use to grow our kid so I follow his lessons from books, some Montessori mom practitioner, etc. Its really make parenting much more fun when we learn about the knowledge behind it. Like this month for instance, when I learn about how baby can eat by themselves through Baby-led weaning method and how Montessori approach of eating for baby to include him in every meals time as we eat together in one table

IMG_20200614_082754_1 in one of our morning walk, I babywear him with Baby carrier and walk up the hill to Bukit Awiligar, found this beautiful park and decided to eat our Sourdough here. He loveeee being in nature, he can sit alllll day!

 

Of course there are a lot of downs beside all, the ups. The wake up night baby cry, the early morning wake up, the tired of accompany him everyday, the first 1 month after he born that looks like the worst month ever haha with sleepless night, clueless new parent, baby figure out how to breastfeed, parent figure out what this crying means and how to handle it, and many many other hard days to face. BUT my mantra from a good friend is always in my head: THIS TOO SHALL PASS! 🙂 and trust me, if you decide to be with your baby 24/7 and taking care of the baby, learning together with the baby, its all worth it 🙂

Wow its been a very long post and I feel so happy to be able to write this beside Kal that already sleep after having his bedtime story with his dad & breastfeed time with his mom. Please sleep through the night, Cikaaal :))))

Bandung, 17 June 2020 | 20.01

IMG_20200617_110104

This morning when he look his dad roasting coffee, he always fascinated with any machine including coffee roasting machine

 

 

Wanderkid inside my womb

Its 13 November and so much has change in my life since a year ago after I got married to my love one. And today, I am sitting in the couch at my parent’s home in my hometown to wait for my other love one to be born to this Mother Earth.

Never imagine that I will be a mom this year, to this upcoming baby boy. Since we acknowledge his presence inside my womb in 27 March on his 7 weeks, this boy has taught me a lot about being a pregnant lady (and beyond that, about life) and preparing to be born new as a mom. Never a second I regret about his presence and day by day I learn more about love. And oh boy, this little one is also restless. Well, the first trimester is the hardest part since I have to adjust with the new hormones, the morning sickness, and feel tired. But after passing those 3 months, this boy give me energy to wander even more.  Every weekend, I always feel like going on a new adventure to outdoor places.

In fact, a week after we notice that I am pregnant, I have to go to Cambodia for Australia Awards event that already arranged and so here we go our first ever adventure to wander around 4 days in Phnom Penh in his 8 weeks old. Oh, he was just a tiny piece of human being at that time. But I already feel like he is going with me exploring the city.

Then, since then, our weekend is always full of adventure. My husband is very patient and kind enough to always follow this wander mood from hiking to hills & mountain nearby Bandung, trek to several coffee farms, get lost in off the beaten path with motorbike (oh yeah, I am that badass pregnant lady :D), out of town adventure to Jakarta (a lot!), Yogyakarta, Central Java, and other. And we even make it to travel to Bangkok & Chiang Mai in his 4.5 months inside my womb. He is not only love taking adventure, but he is also in love with coffee world (not counted how many coffee farms, mills, coffeeshops, that he is been visiting) and even, he is with us when we are opening our 2 new coffeeshops in Jakarta; Flying Goat Coffee & Aiko Coffee. He is also always with us in every trip with our travel company, Wanderlust Indonesia. Oh boy, you are my truly wanderkid :’)

He might born soon by this week and I imagine right now, he is finding his way to get out from his mommy’s womb to the new world that I believe he will fall in love with. My prayer is that he will be our healthy little explorer, kind to others and brave to stand for the right thing in life. Your mom & dad cannot wait to wander the world together with you, baby. See you soon :”)

 

Aiko.jpg
A spontaneous photo taken by our barista in Aiko Coffee

#STAAwards4 – Lesson Learned

Here is some of the lesson learned that I got during joining Australia Awards Program Startup Ecosystem – Batch 4, November 2018:

  • The ecosystem is really working!
    I got connected with several Awardee that we finally create project together. I also got connected with several people in Australia that interested to collaborate on Wanderlust Indonesia program. This would not happen if Australia Awards & Flinders as a host did not arrange such a great program & list of people to meet so that we got the great connection!
  • The Start-up Tools Knowledge & Theory is really helpful!
    We do have several session in class lead by Carla, Laki, and Julie.. and in the beginning I was thinking that it will be a boring session but in the end, we do use all the toolkit that we learn in class to our start-up. I personally use Business Model Canvas, Empathy Map, Customer Journey, Financial Model, Landing Page / A&B Testing, and many other tools to brainstorm with my team earlier this year. Even though some of the tool we already familiar but we use several tools to check again our start-up, are we on the right track or not.
  • Learning from Different Start-up, How to monetize, Investment Models, etc
    We visit or meet many start-up during our program and from all of them I learn a different business model that somehow interesting and not familiar in Indonesia. From there, we also learn how they monetize their product, how they get invested, how they can survive! It is interesting that we also can get insight from several Founders about their story to run the start-up. I think it is a lesson learned that I personally can reflect to what is my stage of business and how I am personally perform to my start-up
  • Learning how Australia build ecosystem between Government, Start-up, Private, and Universities
    From our visit to Adelaide, Melbourne, and Sydney.. we learn that those cities build a great ecosystem between their government, start-ups, private and Universities. This is the thing that is not working well yet in Indonesia and we see that Australia become a great example on how those institution can work together very well. One of the example is how Adelaide govt support ecosystem through Lot 14, how Flinders University facilitate private to collaborate with start-up in the Tonsley, how Melbourne Govt give case studies to solve city problem to start-ups, etc
  • Learning about Australia & Indonesia strat-up ecosystem!
    Part of the learning point is also how we can understand better the ecosystem and network of startup in Australia and in Indonesia. We also have a group WhatssApp that make our network better and almost everyday, people in the group are sharing insight from their network and this is such a continuous learning that we got everyday, and we even can discuss it among other.

Australia Awards – Vibes of the Awardee

2018-11-11 23.54.55.jpg

Hello, this is my second post about Australia Awards program that I receive from the Australia Government. You can read the first post at my page “Australia Award Course Blog”.

After the Pre-Course and then traveling inflight with the other 25 participants of the Australia Awards, and now we are all in Adelaide.. I feel that the Australia Awards has chosen a very diverse and unique character of people. I wanted to write several profile of the Awardee – hopefully I can feature some of their profile later on in my blog because they are all inspiring and their story behind their startup can be an interesting learning to read.

2018-11-11 23.55.10.jpg

If you are curious who are the 26 of us.. here are the list of us:

  1. Mirah Mahaswari – Childminder.id
  2. Annisa Wibi – Mycotech
  3. Brata Rafly – Etobee
  4. Danny Kosasih – Innovesia
  5. Dila Hanum – Telkom Amoeba
  6. Dina Dellyana – The Greater Hub SBM ITB
  7. Dini Hajarrahmah – Wanderlust Indonesia
  8. Donni Prabowo – ABP Incubator
  9. Edi Topan – Expedito
  10. Rangga Alroy – BEKRAF
  11. Elisa Effendy  – Engliven
  12. Febriadi Putra – Gringgo
  13. Gita Dwijayanti – TuneMap
  14. Indra Purnama – MIKTI
  15. Maria Natashia – Family Fund Investor
  16. Marshall Pribadi – Privy.id
  17. Nuning Septiana – Kasir Pintar
  18. Nur Izzatul Muthiah – PLUS
  19. Paundra Noorbaskoro – Growpal
  20. Pratiwi Sukmawati – Ordent
  21. Richard Anggadiwirja – Rumah Porto
  22. Satrio Tegar – Ruang Perintis
  23. Shinta Priantika – Callista
  24. Tubagus Ari – F&B
  25. Tuhu Nugraha – Digital Marketing Mentor & Lecturer LSPR
  26. Utari Octavianty – Aruna.id

It is sometime not easy to gather all 26 people in one group. However, I learnt that this group has a positive vibes, cooperative, and they mostly have a lot of good energy of curiosity, exploration, and an open minded mindset to be able to collaborate each other.

Just tonight, in our wonderful apartment in Adelaide, I heard a story about a women CEO whom the background has nothing to do with what she is doing right now until she found the turning point. When she told me about her story, this give me an inspiration to write this blog and to feature the profile of these group Awardee.

Will that be something interesting to read? 🙂

——–
#STAAwards4
#AustraliaAwardsID
#StartupEcosysteme
#OzAlum #IndonesiaStartups
#AustraliaAwardsIndonesia
@flindersuniversity @AustraliaAwards @DubesAustralia