Belajarlah di ‘Sekolahnya Manusia’, Bukan Sekolahnya Robot :)

Halo Indonesia!

Saya yakin, kalian yang membaca postingan kali ini pasti pernah menjadi murid, mahasiswa, anak, atau kalian adalah pengajar, guru, dosen, orang tua? Baguslah. Disini saya ingin mengungkapkan perasaan saya setelah membaca buku inspiratif karya Munif Chatib, “Sekolahnya Manusia”.

Saya pernah membaca buku sekitar satu tahun yang lalu ketika sedang maen ke tempat Tante Eny Chumaisiyah di Jogja yang memang dia adalah seorang “Guru Sekolah Perjuangan” begitu sebutnya :) Cerita sedikit soal Mbak Eny (panggilan akrab saya), dia ini adalah orang yang membuat saya mencintai Bahasa Inggris sejak kecil, mengajarkan saya dan Fela tentang bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan sehingga saya bisa masuk di Sastra Inggris seperti sekarang, hehe.

Sayang sekali, waktu itu saya tidak sampai selesai membacanya karena harus segera meninggalkan rumahnya di Jogja. Tapi memang benar, kalau sudah jodoh itu emang ga akan kemana, secara kebetulan waktu saya update status di Facebook tentang sekolah di Indonesia, si Ibu Guru Inspiratif dan penggerak Young Changemakers School dari SMP 11 Bandung, Nia Kurniati berkomentar di status saya: “Kamu harus baca buku Sekolahnya Manusia”. Nah, karena familiar saya lalu ingat, saya pernah membacanya di Jogja! Dan kesempatan itu datang lagi, kemarin waktu main di SMP 11 Bandung bermain Wayang Kardus, bu Nia ternyata membawakan buku bercover kuning ini dan dengan senyumnya yang ramah meminjkamkannya kepada saya.

Sepulang dari SMP 11 Bandung, malamnya, saya langsung membaca buku ini dan tidak bisa berhenti hingga jam 1 dini hari. Habis sudah saya lalap semua isi buku yang menarik ini dan langsung mengirim pesan singkat untuk Bapak saya: “Bapak, aku udah tahu sekolah yang cocok untuk Rafly! SMP YIMI Gresik!”. Obrolan antara saya dan Bapak malam itu pun berlanjut dengan saya menceritakan seperti apakah SMP ini dan apa yang saya temui dari Buku ini, saya juga terlibat pillow talk alias obrolan sebelum tidur bersama si Metya, partner internship saya di Ashoka, tentang kesamaan antara adek dia yang sekarang SMA kelas 2 dan Rafly, adek saya yang sekarang kelas 6 SD.

Dia selalu suka dengan air dan berenang :)

Dia sangat suka bermain Play Station dan sangat hebat mencapai level-level tinggi!

Dia sangat sayang sama saya dan keluarganya tapi kadang ga tau cara mengungkapkannya, Haha

Sebelum dia "disunat", bersama Adam (berbaju biru), anaknya Om saya.

Kenapa saya bilang coock untuk Rafly?

Rafly adalah adik saya nomer 3 dan anak ke-4 dari keluarga saya. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga saya dan mungkin bagi beberapa orang yang mengalami kasus seperti ini, anak ini akan dijadikan harapan tertinggi untuk keluarganya karena satu-satunya lelaki di keluarga.

Tapi tidak dengan Rafly. Kami mulai menyadari bahwa Rafly tidak seantusias Marsha, adik saya yang terakhir dalam belajar atau serajin Salma, anak nomer3 dari keluarga saya. Rafly yang sekarang sudah kelas 6 SD bahkan tidak pernah memikirkan Ujian Nasionalnya dan lebih memilih untuk bermain PS, bersepeda berjalan-jalan sama temen-temennya, dan menonton TV serta membaca komik atau bermain yang aneh-aneh sama si Marsha, Haha.

Hingga akhirnya saya mengajak dia berbicara agak serius tentang masa depan dia setelah SD ini (hehe) dan dia ternyata masih punya mimpi untuk melanjutkan SMP di tempat yang diinginkannya tetapi begitu saya menghitung rata-ratanya di rapot, nilainya belum cukup kecuali nilai semester terakhirnya dan UN-nya nanti bagus. Rafly memang hampir tidak pernah masuk 10 Besar selama di SD dan dia juga tidak pernah berambisi ingin menjadi Juara kelas, tidak seperti Marsha yang sangat bersemangat ingin selalu berada di 3 Besar. Saya pun sempat iseng mengajak Salma, Marsha, dan rafly untuk tes IQ untuk mengetahui potensi mereka dan saya belum sempat lihat hasilnya karena belum sempat pulang.

Saya kemudian menemukan bahwa Rafly mempunyai kemiripan dengan “anak-anak yang dianggap bermasalah” yang diulas di bukunya Munif Chotib ini dan Pak Munif memaparkan dengan menarik bahwa sebenarnya bukan anak-anak ini yang bermasalah, tapi guru dan sistem yang bermasalah. Munif Chotib melalui teori Multiple Intelligences yang dia terapkan di Indonesia menganalisa masalah-masalah yang sering ditimbulkan oleh anak-anak yang dianggap bermasalah oleh sekolah, guru, dan orangtuanya dan mengubah anak-anak ini menjadi anak-anak yang berpotensi luar biasa!

Jika kalian membaca halaman 3-54 di buku Sekolahnya Manusia yang memaparkan perubahan-perubahan yang dialami “anak-anak yang dianggap bermasalah” menjadi anak-anak berpotensi, kalian akan menyadari bahwa selama ini sistem kita memang telah membodohi kita sendiri. Saya merasa tertampar saat membaca buku ini, selama ini saya seringkali ketika bertemu dengan anak kecil, saya menanyakan ranking berapa mereka di kelas, sekolah dimana, dan bahkan kemarin saya menanyakan sama si Ajeng dari SMP 11 Bandung.. di Bandung ini sekolah favoritnya SMP mana?

Kenapa saya tertampar? Karena Munif Chotib dengan indahnya bercerita bahwa adanya label sekolah favorit, kelas favorit, dll itu akan menjadikan anak-anak yang dianggap bodoh karena tidak bisa masuk di “kandang favorit” itu semakin merasa terpuruk dan tidak ada semangat bersaing karena mereka sudah dicap oleh masyarakat bahwa mereka bukanlah “favorit”, mereka tidak “pintar”, mereka “bodoh”. Munif menulis bahwa seharusnya sekolah itu dapat memanusiakan manusia, menerima siapa saja yang ingin bersekolah karena tujuan sekolah adalah untuk mendidik manusia, bukan untuk menerima yang pintar saja dan membuang yang dianggap bodoh. Lalu jika sistemnya seperti itu, hanya anak-anak yang dianggap pintar secara akademis yang diukur dari nilai itu sajalah yang punya hak untuk sekolah? Bagaimana nasib si anak yang dianggap bodoh ini?

Setelah berdiskusi dengan pakar Multiple Intelligences (MI), Thomas Armstrong, Ph.D, Munif akhirnya berani menciptakan sistem MI di sekolah-seksekolah di Indonesia dan menemukan cara-cara pendekatan MI yang dapat dikembangkan di negara ini.

Munif Chatib mampu mengubah Yayasan Sekolah YIMI di Gresik menjadi berpotensi dan dilirik oleh masyarakat karena sistemnya yang unik dan menarik. Mereka menerima semua siswa yang mendaftar hingga kuota penuh, tidak ada seleksi untuk menggugurkan siswa yang tidak pintar disini yang ada hanyalah tes Multiple Intelligences Research (MIR) yang akan mengetahui dimana kecerdasan anak yang paling menonjol dan akan menggunakannya sebagai cara pendekatan pengajaran untuk anak tersebut.

Hasilnya luar biasa, banyak anak-anak yang mulanya dianggap bermasalah di “Sekolah Robot” diubah menjadi anak-anak berpotensi di “Sekolah Manusia” ini. Contohnya saja, si Hasyim yang suka sekali menggebyur kelas dan temannya dengan air, karena guru di sekolah ini menyadari potensi Hasyim ada di kecerdasan kintetis (gerak), maka sang guru menggunakan metode pendekatan olahraga sepak bola untuk belajar. Hasyim pun tidak lagi dijuluki “manusia air” tapi menjadi “calon pesepak bola bertalenta tinggi”. Ada lagi si Arif  yang hiperaktif dan tidak bisa dikendalikan, sering keluar kelas dan hingga suatu saat Arif ditemui sedang bermain dengan kucing di luar kelas. Gurunya pun akhirnya menemukan metode yang tepat untuk Arif belajar, membiarkan dia mengajak si Kucing masuk ke kelas berada di sebelahnya. Luar biasa! Arif jadi semangat masuk kelas dengan si Kucing kesayangannya ini.  Si guru pun menggunakan metode bercerita tentang superhero untuk menarik perhatian Arif karena Arif sangat suka dengan cerita kepahlawanan seperti Power Rangers, Batman, dll. Arif yang semula selalu menakali teman-temannya tiba2 menghampiri gurunya dan berjanji tidak akan menakali teman2nya lagi dan berganti membela teman2nya jika ada orang lain yang mengganggu teman2nya.

Andra yang disangka autis ternyata memiliki potensi melukis yan luar biasa hingga bisa menyelenggarakan pameran lukisan se Kota Gresik, dari 120 lukisan, 40-nya adalah lukisan Andra. Rima yang diberi tugas guru Ekonominya untuk mengetahui perbedaan Kebutuhan VS Keinginan dapat mengubah nasib tetangganya yang miskin mendapatkan pekerjaan dari yang kaya karena si kaya menyadari bahwa dari hasil penelitian Rima, keinginan si kaya ini merupakan kebutuhan bagi si miskin.

Nadia yang awalnya tidak PD beraktifitas karena kakinya yang hanya satu dapat menjadi Wasit lomba lari dan basket favorit teman-temannya, Bela yang jadi semangat masuk ke kelas dan dekat dengan sang guru karena pendekatan cerita tentang Barbie yang sangat digemari Bela. Latif yang tidak lagi kesulitan berhitung gara-gara sang guru menggunakan pendekatan “menggambar dan melukis angka” karena tahu potensi latif di kecerdasab spasial visual (menggambar dan mewarnai), dan banyak lagi cerita inspiratif dari buku ini yang harus kalian baca sendiri.

Pendekatan Multiple Intelligences sangatlah cocok untuk dikembangkan di sekolah-sekolah di Indonesia yang belum bisa menghargai muridnya. Saya jadi ingat Icha, teman kecil saya di SLB Widya Bhakti Semarang. Dia adalah anak dengan down syndrom yang sama sekali tidak terlihat memiliki kekurangan. Ketika saya berbincang dengan sang Ibu, saya jadi tahu kenapa Icha tidak pernah terlihat seperti anak Down Syndrom, karena sang Ibu tidak pernah memperlakukan dia seperti anak yang kekurangan, Hebat! :) Icha ini juga sudah ditolak beberapa kali di sekolah biasa (sekolah robot) karena tidak mau menerima kekurangan Icha. Icha pun akhirnya bersekolah di SLB ini dan ternyata potensi dia cukup besar dalam bercerita, memimpin, dan tampil di depan umum :)

Icha yang enerjik dan hebat!

Bersama sang Ibu yang hebat, Icha malu-malu menutup helmnya dan ada Niena yang sedang ngobrol sama dia :)

Thomas Armstrong pun menganalisa bahwa kesalahan guru-guru kebanyakan itu terkena syndrom: DISTEACHIA atau salah mengajar. Syndrom ini memiliki Virus 3 T: Teacher Talking Time (guru yang menghabiskan waktunya di kelas untuk ceramah terus di depan kelas), Task Analysis (Guru tidak pernah menjelaskan apa tujuan kita mempelajari suatu hal, kita tahu materi logaritma mungkin tapi kita ksulitan menjawab untuk apa itu), Tracking (pengelompokan siswa ke dalam beberapa kelas berdasarkan kemampuan kognitifnya, seperri kelas favorit tadi). Inilah kesalahan yang terjadi di Sekolah Robot dan tidak akan pernah ditemui di Sekolah Manusia-nya Munif Chatib.

Karena itulah, saya jadi penasaran ingin melihat SMP YIMI di Gresik bersama Rafly dan Bapak nanti begitu saya sudah pulang ke Kudus usai magang. Semoga saja Rafly tertarik karena saya yakin Rafly akan lebih dihargai potensinya di Musik, Verbal, dan Kintetis daripada di Sekolah Robot biasa. Saya ingin Rafly menemukan semangat dan motivasi untuk berangkat ke sekolah dan tidak bermalas-malasan seperti sekarang. Saya tidak pernah menganggap Rafly bodoh atau tidak bisa atau kurang berpotensi. Saya selalu percaya dia memiliki potensi yang hebat di beberapa hal begitu juga dengan adik-adik saya yang lain. Dan mungkin, melalui Sekolah Manusia-nya Munif Chatib, Rafly akan menemukan dan mengembangkan potensinya sehingga menjadi anak yang luar biasa :)

Berikut adalah daftar sekolah yang sudah dapat pelatihan, workshop, konsultasi dari NEXTWORLD VIEW (Perusahaan Munif Chotib) tentang MI:

1) KB-TK SD, SMP Yayasan Islam Malik Ibrahim (YIMI) Gresik

2) TK, SD Plus Mutiara Ilmu Bangil Pasuruan

3) KB-TK Bunga Bangsa Sidoarjo

4) SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo

5) SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo

6) KB-TK, SD, SMP-Mts, MA Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Bondowoso

7) TK, SD Al-Kautsar Malang

8) KB-TK, SD Al-Irsyad Jember

9) KB-TK, SD Al-Irsyad Madiun

10) KB-TK, SD, SMP Assalamah Ungaran Jateng

11) Sekolah Cakra Buana Depok

12) KB-TK Al-Falah Al-Khairiyah Condet, Jakarta

13) KB-TK, SD Mamba’ul ‘Ula Jakarta

14) SD Al-Alzhar Kelapa Gading Surabaya

15) SD Luqmanul Hakim Hidayatullah Surabaya

16) SDIT Buah Hati Jakarta

17) Sekolah Alam dan Sains Al-Jannah Jakarta

18) Sekolah Lazuardi, Jakarta

*Beberapa ada yang mendapatkan konsultasi dan pelatihan hingga sekarang, beberapa hanya sekali*

Saya jadi ingat film Dead Poets Society dan Freedom Writers tentang guru-guru “antik dan jenius” yang mampu membuat murid-muridnya tertarik belajar di sekolah. Sekolah yang lebih menekankan pada “The Best Process” bukan “The Best Input”. Sudah banyak sekolah-sekolah di Amerika juga yang menerpkan sistem MI untuk melakukan pendekatan pengajaran pada murid-muridnya dengan konsep yang berbeda-beda.

Inilah sekolah unggulan yang sebenarnya: yang mampu memanusiakan manusia, dalam arti menghargai setiap potensi yang ada pada diri siswa. Sekolah yang membuka pintnya pada semua siswa, bukan dengan menyeleksinya dengan tes-tes formal yang memiliki interval nilai berupa angka-angka untuk menyatakan batasan diterima atau tidak (Sekolahnya Manusia: 96).

Jadi, jangan pernah menganggap seseorang bodoh hanya karena IP atau Nilai di rapotnya tidak sebagus yang lain, angka-angka itu tidak bisa menyatakan kecredasan seseorang atau kesuksesan seseorang! Beritahu hal ini pada orang tua, guru, kawan, sahabat, pacar, anak, murid, mahasiswa, pemerintah, dan semua pihak yang bisa kamu beritahu. Kita bukanlah robot, kita adalah manusia yang tidak bisa diukur dengan interval angka-angka! :))

Bagi yang ingin mengikuti pelatihan Multiple Intelligences Guru dan Manajemen Pendidikan bersama Munif Chatib dapat mengubungi:

Jakarta

Lazuardi NEXT

Jl. Margasatwa 39, Jagakarsa JAKSEL

081317774181 (Irma)

Surabaya

NEXT WORLDVIEW

Gd. Graha Pangeran Lt.X-C2

Jl. Ahmad Yani No. 286 Surabaya

08885328870 (Adi)

Salam Sekolah Manusia! :)

Dini Hajarrahmah

Future CEO of Eco-School and Eco-Travel Enterprise :)

11 thoughts on “Belajarlah di ‘Sekolahnya Manusia’, Bukan Sekolahnya Robot :)

  1. konsep sekolah seperti itu sdh mjd incaran kami sejak 2-3 th yll….tapiii gimana ya mba jika di daerah saya (kalsel) belum ada sekolah manusia? semua sekolah robot ….hiks…hiks

  2. saya sangat tertarik dgn banyak metode untuk menarik kerasan belajar di sekolah ..namun masyarakat menilai sy mengajar anak sd seperti tk tidak maju dan anaknya semakin bodoh diajak bermain tidak disiplin karena bermain terus,tapi anak senanang .saya setuju jika orang tua mengerti

    • Hehe tetap semangat mengajarkan dengan cara yang berbeda dan menyenangkan buat muridnya yah Mbak yayuk :)
      Insyaallah apa yang mbak lakukan ini sudah benar dan biasa lah, masyarakat awam suka tidak setuju dengan perubahan atau perbedaan, padahal kalau hasilnya bagus di muridnya juga mereka nanti akan setuju2 aja. Jadi buktikan pada masyarakat kalau Mbak Yayuk bisa mengajar dgn cara yang menyenangkan dan anak pun bisa sukses :)
      Semangat!

  3. bagus banget artikelnya, ini pemikiran saya sejak lama, mengenai sistem pengajaran diindonesia, bener banget sekolah2 diindonesia udah kayak sekolah robot -,-. oh iya saya salah satu murid SMK sekolah cakra buana depok urusan animasi,kebetulan saya nemu artikel ini dan ada nama sekolah saya hehe

  4. Terima kasih infonya mbak Dini…. alhamdulillah sebelum membaca buku Sekolahnya Manusia saya sudah menemukan sekolah di Cakra Buana. dan kebetulan secara lokasi dekat rumah. Sharing utk pengalaman saja,,, pada saat masuk SD anak saya ditolak disalah satu SDIT di depok.. karena dilabel dengan hiperaktif. Pada saat detik detik terakhir dimulai ajaran baru kemudian saya mendapat info bahwa sekolah Cakrabuana menerima muruid dg label anak berkebutuhan khusus….
    Dengan diberikan 2 kaka yang punya semangat belajar dan kemampuan diatas rata rata.. membuat saya cukup kerepotan dan agak frustasi pada saat saya mengetahui kondisi ananda yang mungkin sama dengan kondisi Rafly
    Luar biasa pengalaman saya menyekolahkan anak disana… krn dalam dengan metode pendekatan guru ke murid yang sebenarnya sederhana tetapi tepatnya mengetahui potensi ananda.. buat saya menjadi luar biasa karena tidak pernah sekalipun metode ini terpikir dibenak saya.
    Contoh buat saya.. 3 bulan pertama ananda bisa baca dengan metode membaca majalah kegemaran tentang otomotif… dr membaca judul artikel yang memakai huruf besar, kemudian bisa dengan mudah membaca artikel lanjutan. Padahal 2 tahun pada saat TK untuk mengajar membaca tidak mengalami kemajuan yang signifikan.
    Agar siswa gemar membaca.. mereka diminta untuk membaca buku kesayangan pada saat jam istirahat… bahkan tiap kelas ada kumpulan buku yang dibawa muridnya dengan berbagai ragam jenisnya
    Masih banyak metode yang diterapkan disana ketika setiap siswa diberikan reward tidak hanya dr akademis tetapi dr perilaku… seperti yang membuat ananda bangga sampai saat ini dia pernah mendapat penghargaan tidak pernah absen dan telat selama 2 tahun berturut turut…
    Dan puncaknya ketika pada ujian akhir.. pada angkatan anak saya adalah ananda mendapat nilai yang bagus… dan yang mendapat peringkat tertinggi adalah anak autis…
    Luar biasa… bagaimana sekolah ini mampu mengoptimalkan potensi anak anak yang semula sempat dilabel “anak bermasalah” menjadi anak anak yang mempunyai kepercayaan diri lebih besar karena mereka sudah menemukan potensinya.
    Terima kasih mbak Dini… setelah saya membaca buku SM saya makin memahami bahwa setiap anak yang dilahirkan , oleh Allah pasti diberikan kelebihan dan kekurangan.
    Menjadi tugas kita sebagai orang tua yang diberi amanah untuk dapat menemukan kelebihan ananda.. agar mereka dapat memberikan manfaat sebesar besarnya untuk masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s