Selasa malam, 8 Mei 2012 lalu, posisi saya sedang di Jakarta untuk interview kerja. Sepulang dari interview sekitar pukul 10.15 malam hari saya ditelfon seorang teman di Semarang. Feeling saya sudah tidak enak ketika nama dia yang muncul di layar hape saya. Saya pun hanya mendengar isak tangis dari telfon, tanpa ada suara. Saya pun panik, “Fah, jangan bilang… Fah, please jangan bilang itu, Fah.. Faaah!” Saya sudah histeris sendiri.
“Iya din. Ella meninggal baru saja di Rumah Sakit setelah operasi. Tolong kabarkan teman-teman ya, Din.” katanya pendek. Saya pun semakin histeris. Saya masih mengelak awalnya, pasti ini mimpi. Ini pasti bohong. Begitu batin saya saat itu tapi yang di telfon sana semakin meyakinkan saya bahwa ini kenyataan. Ella, sahabat kosku itu meninggal dunia malam ini.
Yang bikin saya menyesal, Afifah, teman saya yang menelfon sudah memberitahu saya kalau Ella dirawat di Rumah Sakit di Jakarta dan ketika Senin saya tiba di Jakarta saya sudah berniat ingin menjenguk Ella bersama Fany, sahabat saya yang juga bersama saya ke Jakarta. Tetapi sms yang saya layangkan ke Ella tidak ada balasan ketika saya menanyakan dimana dia dirawat di Jakarta. Dan di hari Selasa-nya saya dan Fany disibukkan dengan seharian mengurus interview kerjaan.
Penyesalan kedua. Setelah ditelusuri, ternyata Ella dirawat di rumah sakit yang lokasinya berdekatan sekali dengan tempat saya interview. Saya shock sekaligus menyesal. Bagaimana mungkin saya tidak tahu kalau dia dirawat sangat dekat dengan posisi saya di hari Selasa itu. Yang ada hanyalah penyesalan. Malam itu saya mengenang masa-masa saya dengan anak-anak kos yang lainnya di Pleburan Barat sejak 2007 hingga 2010 di masa kuliah kami.

Ella setelah akhirnya berjilbab 
——————————-
4 Tahun yang lalu.
Saya mendapatkan kos di Pleburan Barat sementara kampus saya di FIB UNDIP Pleburan, saya bisa berjalan kaki sekitar 15 menit menuju kampus dengan mudah. Teman sekamar saya bernama Risti, anak D3 Ilmu Pemasaran (Marketing) UNDIP, teman sebelah kamar saya bernama Ella dan dia belum punya teman sekamar, teman sebelah kamar Ella bernama Evie dan Dwi, teman sebrang kamar di ujung bernama Mira dan Nita. Kami bertujuh berada di lantai 1 dan menghabiskan waktu bersama hampir tiap malam usai kuliah. Makan malam bersama, nonton TV bersama di kamar Evie atau kamar saya dan Risty, main kartu, nyanyi-nyanyi, curhat-curhatan, bikin video ga jelas, foto-foto, dll.

Pertemuan anak-anak kos terakhir kali bareng-bareng di Citraland Semarang. Ella pakai jilbab krem paling ujung 
Setiap ada yang ulang tahun, kami selalu ada saja ide untuk mengerjainya. Mulai dari siram air malam-malam pukul 00.00 di hampir setiap ulang tahun anak-anak, bikin surprise kue ultah masuk malam-malam di kamar yang ulang tahun, dll. Saya merasakan mendapatkan keluarga baru di masa-masa kuliah saya yang masih awal-awal itu. Kami saling tahu apa jelek-jeleknya tiap anak dan rahasia masing-masing orang, hehe.
Pertama kali saya kenal Ella, saya langsung bisa dekat dengan dia. Dia mengenalkan dirinya dengan semangat. Dia berasal dari Kendal dan ternyata kenal beberapa teman saya. Bahkan sahabat dia sejak kecil, Afifah, juga teman sekelas saya di Sastra Inggris. Ella dan saya yang satu kampus tapi beda jurusan (Ella adalah mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan) sering berangkat bareng, ketemu di kampus, dan saling tahu teman masing-masing kami di kampus.

Awalnya saya penasaran ada apa dengan Ella karena badannya yang lebih kecil dari rekan seusianya tapi saya tidak pernah berniat untuk menanyakan itu karena saya menerima Ella apa adanya dengan semua hal-hal baik yang dimiliki Ella. Akan tetapi, semakin saya mengenal Ella, semakin kami bercerita satu sama lain dan akhirnya Ella pun bercerita kalau dia memiliki penyakit jantung sejak kecil. Ella memiliki kelainan di jantungnya yang menyebabkan di jantungnya harus dipasang suatu alat untuk membantu kinerja jantungnya. Tanpa bantuan alat itu, jantungnya akan kesulitan bekerja. Jika saya sedang tidur di sebelah Ella, pasti akan terdengar suara dari alat di jantungnya seperti suara detikan jarum jam, yang artinya alatnya sedang bekerja. Seringkali kami memang tidur bertiga (saya, Ella, Risty) di kamar saya karena Ella sering sendiri di kamar dan tidak berani tidur sendiri ketika kami habis cerita horor, hehehe.
Ella pun bercerita kalau dia juga sempat selamat dari operasi jantung yang Dokternya pun menyatakan itu suatu keajaiban dari Tuhan. Ella setiap hari harus mengkonsumsi obat dan sering kontrol di Rumah Sakit di Semarang. Ketika saya dan teman-teman tahu tentang kondisi Ella, kami semakin takjub dengan Ella. Kami salut akan sikapnya menghadapi penyakitnya ini.
Ella, jarang dan hampir tidak pernah mengeluhkan penyakitnya. Meskipun banyak sekali pantangan yang diberikan Dokter dan orang tuanya, Ella tidak pernah mengeluh. Bahkan Ella ingin membuktikan kalau dia pun bisa seperti yang lainnya. Ella sebenarnya tidak boleh ayahnya jalan dari kos ke kampus di awal kuliah karena akan membuat dia cepat capek dan drop sehingga Ella diminta untuk naik becak saja atau bonceng motor temannya tapi dia merasa bahwa dia mampu berjalan kaki dan itu dia buktikan berhasil! Dia dengan gigih tetap berjalan dan tanpa ada keluhan sedikitpun.
Ella juga sering dilarang untuk bepergian jauh ke luar kota atau jalan-jalan oleh orang tuanya akan tetapi selama merasa dia mampu, Ella akan gigih berjuang mewujudkan apa yang dia inginkan dan dia pun membuktikan kalau dia bisa! Ella memang memiliki keterbatasan fisik, akan tetapi itu tidak pernah dia jadikan keluhan dan batasan untuk mewujudkan apa yang dia inginkan.
Ella pun dapat menyelesaikan studinya di S1 Ilmu Perpustakaan UNDIP pada Oktober 2011 lalu bersama teman-teman yang lainnya dan saya dengar dia sempat bekerja di SMK di Kendal. Terakhir saya kontak dengan dia lewat twitter sekitar 2 minggu sebelum dia meninggal, dia ingin bertemu anak-anak kos di Semarang tapi dia bilang dia tidak bisa minggu-minggu saat itu tapi tanpa menyebut kalau dia akan dioperasi dalam minggu-minggu itu. Oh Ella. Kami belum sempat bertemu dengan kamu lagi.

Ella di tengah dengan kerudung putih dan coklat.
Sekarang, Ella memang telah tiada. Akan tetapi semangat, senyum tulusnya, keikhlasannya, kebaikannya, kelucuannya, dan kegigihannya akan selalu hidup dan kami kenang selama-lamanya. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik-Nya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Selamat jalan, Ella. Rest in Peace

Ella di tengah yang memakai baju merah dengan kipas dengan teman-teman kampusnya.
Facebook Ella: http://www.facebook.com/aniswatika.lailarizqi
-@dinidreaming-
Like this:
One blogger likes this post.